Dunia pendidikan kita saat ini sering kali terjebak dalam arus globalisasi yang seragam.
Sebagai pendidik di level pendidikan tinggi, saya melihat dampak jangka panjangnya: mahasiswa yang cerdas secara kognitif, namun mengalami "disorientasi kultural."
Inilah mengapa integrasi kearifan lokal pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan strategis.
Mengapa Harus Dimulai Sejak Dini?
Usia 0-6 tahun adalah masa golden age di mana plastisitas otak anak berada pada titik maksimal.
Mengajarkan kearifan lokal pada fase ini bukan berarti kita bersikap konservatif atau menutup diri dari kemajuan. Sebaliknya, ini adalah tentang memberikan jangkar identitas.
Internalisasi Nilai Karakter: Kearifan lokal Indonesia kaya akan konsep gotong royong, tepo seliro (tenggang rasa), dan harmoni dengan alam. Nilai-nilai ini jauh lebih mudah diserap melalui lagu daerah, permainan tradisional, atau dongeng rakyat dibandingkan instruksi formal.
Stimulasi Sensorik yang Otentik: Permainan seperti congklak atau engklek bukan sekadar hiburan.
Mereka adalah alat stimulasi motorik dan logika matematika yang telah teruji zaman, jauh lebih sehat daripada paparan gawai yang berlebihan.
Saya mengamati ada dua tantangan besar dalam implementasi ini:
Stigmatisasi "Kuno": Masih ada persepsi bahwa kurikulum berbasis lokal tertinggal dibanding kurikulum internasional.
Padahal, dunia internasional justru sedang melirik place-based education (pendidikan berbasis tempat).
Guru PAUD membutuhkan kreativitas untuk menerjemahkan nilai lokal ke dalam kegiatan bermain yang menyenangkan, tanpa terkesan doktriner.
Rekomendasi Strategis
Integrasi ini tidak boleh hanya berhenti pada "seragam baju adat" sebulan sekali. Perlu ada langkah konkret:
Kurikulum Berbasis Narasi Lokal: Gunakan legenda atau mitos setempat untuk mengajarkan konsep moral dan lingkungan.
Pemanfaatan Material Alam (Loose Parts): Menggunakan media dari lingkungan sekitar (batu, kerang, bambu) untuk mengenalkan anak pada kekayaan ekologi daerahnya.
Keterlibatan Masyarakat: Mengundang tokoh adat atau perajin lokal ke sekolah untuk berbagi pengalaman.
Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia.
Dengan mengintegrasikan kearifan lokal, kita sedang membantu anak-anak kita untuk "berpikir global, bertindak lokal."
Kita memberi mereka akar yang kuat agar kelak saat mereka terbang tinggi dengan sayap teknologi dan ilmu pengetahuan modern, mereka tetap tahu ke mana harus pulang.
"Seorang anak yang mengenal budayanya akan memiliki rasa percaya diri yang kokoh; mereka tidak akan mudah goyah oleh arus zaman karena mereka tahu siapa diri mereka."
Penulis
Herawati Syamsul.S.Pd.I.,M.Pd



Tulis Komentar