Catatan ini lahir dari
sawah yang basah oleh embun pagi,
dari tanah yang
digenggam tangan-tangan petani dengan sabar,
dan dari piring-piring
sederhana yang tak pernah menuntut lebih
selain sebutir nasi yang jujur.
Andi
Amran Sulaiman,
namamu mungkin tercatat
di lembar-lembar keputusan negara,
namun sesungguhnya
engkau hidup di hamparan ladang,
di pematang yang dilalui
petani dengan kaki letih namun hati berharap.
Engkau datang tidak
membawa janji yang berkilau,
melainkan kerja yang
sunyi.
Pupuk yang dulu terasa
jauh, kau dekatkan.
Harga gabah yang dulu
tertekan, kau tegakkan.
Dan pelan-pelan, tanpa
sorak,
negeri ini kembali
belajar percaya pada tangannya sendiri.
Ketika Presiden
mengucapkan kata swasembada,
itu bukan sekadar
pengumuman.
Itu adalah penutup doa
panjang petani
yang selama
bertahun-tahun menanam tanpa kepastian.
Lumbung yang penuh
bukan hanya soal angka,
melainkan tanda bahwa
negara akhirnya pulang ke sawah.
Yang paling manis dari
semua capaian itu
bukanlah surplus, bukan
pula statistik.
Yang paling manis adalah
senyum petani
yang kini berani
bermimpi lebih jauh dari musim tanam berikutnya.
Anaknya boleh tetap
sekolah,
tanahnya tak lagi ingin
dijual,
dan bertani tak lagi
terasa sebagai nasib terakhir.
Saat engkau berbicara
tentang ekspor beras,
kami tahu itu bukan
kesombongan.
Itu adalah keyakinan
bahwa bangsa ini
telah selesai dengan
rasa kurang percaya diri.
Bahwa setelah cukup
untuk dirinya,
Indonesia siap berbagi
pada dunia.
Catatan ini tidak
ditulis untuk memuja,
sebab kerja sejati tak
membutuhkan pujian.
Ia hanya ingin
menyimpan satu hal sederhana,
bahwa pernah ada
seorang pemimpin
yang memilih berpihak
pada petani
dan tidak beranjak
sampai sawah kembali bermakna.
Kelak, bila sejarah
pertanian dituturkan kepada generasi baru,
mungkin namamu akan
disebut dengan nada biasa.
Namun bagi petani,
engkau akan selalu
dikenang
sebagai orang yang
menjaga nasi mereka tetap ada di meja,
dan harapan tetap hidup di ladang.
Itulah catatan manis
ini,
tenang, jujur dan
ditulis dari tanah yang menghidupi kita semua.
Eramas 2000, 09 Januari 2026
Oleh : MUSLIMIN MAWI
Penulis, Aktivis dan
Pemerhati Organisasi



Tulis Komentar