Pada tanggal 6–9 Agustus 2026, Kota Semarang akan menjadi saksi berlangsungnya Muktamar XVI Perguruan Seni Bela Diri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah.
Sebagai forum permusyawaratan tertinggi organisasi, Muktamar tentu memiliki agenda konstitusional berupa pemilihan Ketua Umum untuk periode kepemimpinan berikutnya.
Namun, apabila Muktamar hanya dipahami sebagai arena pergantian kepemimpinan, maka makna strategis dari forum tersebut menjadi terlalu sempit.
Muktamar sejatinya merupakan momentum konsolidasi ide, penyegaran visi, serta perumusan arah gerak organisasi untuk lima tahun ke depan.
Di sinilah masa depan Tapak Suci ditentukan,bukan semata-mata oleh siapa yang memimpin, tetapi oleh sejauh mana organisasi mampu merumuskan strategi yang menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar ideologisnya.
Tapak Suci bukan sekadar perguruan pencak silat. Ia adalah gerakan pendidikan, pembinaan karakter, dakwah dan kebudayaan yang lahir dari rahim Persyarikatan Muhammadiyah. Oleh karena itu, keberhasilan Tapak Suci tidak hanya diukur dari jumlah medali yang diraih para pesilatnya, tetapi juga dari keberhasilannya membentuk manusia yang berakhlak mulia, berkepribadian Islami, berjiwa nasionalis dan memiliki kontribusi nyata bagi masyarakat.
Kembali pada Fondasi Ideologis
Dalam Anggaran Dasar Tapak Suci, Bab II Pasal 5 ditegaskan bahwa tujuan organisasi ini adalah:
Mendidik serta membina ketangkasan dan keterampilan pencak silat sebagai bela diri, seni olahraga dan budaya bangsa Indonesia;
Memelihara dan mengembangkan kemurnian Pencak Silat Aliran Tapak Suci sebagai budaya bangsa yang luhur dan bermoral sesuai ajaran Islam, bersih dari syirik serta tidak menyesatkan;
Mendidik dan membina anggota untuk menjadi kader Muhammadiyah;
Menggembirakan dan mengamalkan dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam usaha mempertinggi ketahanan nasional.
Tujuan tersebut menunjukkan bahwa Tapak Suci memiliki karakter yang berbeda dengan perguruan pencak silat pada umumnya. Organisasi ini dibangun di atas tiga pilar utama, yaitu pembinaan olahraga, kaderisasi persyarikatan dan dakwah Islam.
Karena itu, pengembangan organisasi ke depan harus selalu menjaga keseimbangan ketiga pilar tersebut.
Prestasi olahraga yang tinggi tanpa pembinaan ideologi akan melahirkan atlet yang kehilangan identitas.
Sebaliknya, pembinaan ideologi tanpa penguatan prestasi akan menjadikan organisasi kehilangan daya saing dan relevansi di tengah perkembangan olahraga modern.
Menjawab Tantangan Zaman
Memasuki era globalisasi dan revolusi digital, tantangan yang dihadapi Tapak Suci jauh lebih kompleks dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Persaingan antar perguruan semakin ketat, perkembangan ilmu keolahragaan semakin pesat, sementara generasi muda memiliki karakter dan pola pikir yang berbeda dengan generasi pendahulunya.
Dalam konteks ini, sistem pembinaan Tapak Suci perlu mengalami akselerasi dan transformasi tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya.
Pertama, modernisasi manajemen organisasi harus menjadi agenda prioritas.
Tata kelola organisasi yang profesional, transparan, akuntabel dan berbasis teknologi informasi merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditunda lagi.
Organisasi yang besar memerlukan sistem yang modern agar mampu bergerak efektif dan efisien.
Kedua, sistem pembinaan atlet perlu dirancang secara berjenjang dan berkelanjutan.
Identifikasi bakat sejak usia dini, pembinaan prestasi yang terstruktur, peningkatan kualitas pelatih, serta penerapan sport science harus menjadi bagian integral dari kebijakan organisasi.
Ketiga, kaderisasi ideologis harus berjalan seiring dengan pembinaan prestasi. Setiap pesilat Tapak Suci tidak hanya dilatih untuk menjadi juara di gelanggang pertandingan, tetapi juga menjadi kader Muhammadiyah yang memahami nilai-nilai Islam Berkemajuan dan memiliki komitmen kebangsaan yang kuat.
Keempat, penguatan jejaring internasional perlu diperluas. Tapak Suci memiliki potensi besar untuk menjadi duta budaya dan dakwah Indonesia di tingkat global.
Perwakilan-perwakilanTapak Suci yang telah berkembang di berbagai negara perlu mendapatkan perhatian lebih serius agar mampu menjadi pusat pengembangan pencak silat dan syiar Islam yang moderat.
Prestasi dan Dakwah: Dua Sayap yang Harus Terbang Bersama
Selama ini sering muncul anggapan bahwa orientasi prestasi olahraga dan orientasi dakwah merupakan dua hal yang berbeda.
Padahal dalam perspektif Tapak Suci, keduanya merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan.
Prestasi olahraga merupakan media dakwah yang efektif.
Ketika seorang pesilat Tapak Suci berdiri di podium juara dengan menunjukkan akhlak yang baik, sportivitas yang tinggi, serta sikap yang santun, sesungguhnya ia sedang memperkenalkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas.
Demikian pula dakwah yang dilakukan melalui pembinaan karakter akan melahirkan atlet-atlet yang tangguh secara mental, disiplin, jujur dan berintegritas.
Karakter-karakter inilah yang menjadi fondasi utama bagi lahirnya prestasi yang berkelanjutan.
Oleh sebab itu, Muktamar XVI harus mampu melahirkan rumusan program kerja yang menjadikan prestasi dan dakwah sebagai dua sayap yang terbang bersama menuju tujuan yang sama.
Menuju Perguruan Pencak Silat Terbesar dan Paling Profesional
Sebagai salah satu perguruan historis dalam dunia pencak silat Indonesia, Tapak Suci memiliki modal sosial, modal organisasi dan modal ideologis yang sangat besar.
Jaringan Muhammadiyah yang tersebar dari tingkat pusat hingga ranting merupakan kekuatan strategis yang tidak dimiliki banyak organisasi lain.
Namun modal besar tersebut harus diubah menjadi kekuatan nyata melalui program-program yang terukur dan berorientasi hasil. Keberhasilan Tapak Suci pada masa depan tidak cukup hanya diukur dari banyaknya cabang yang berdiri atau jumlah anggota yang terdaftar, tetapi juga dari kualitas pembinaan, prestasi olahraga, pengaruh sosial, serta kontribusinya terhadap pembangunan karakter bangsa.
Muktamar XVI di Semarang hendaknya menjadi titik tolak lahirnya paradigma baru organisasi, kuat dalam ideologi, modern dalam tata kelola, unggul dalam prestasi dan luas dalam pengabdian.
Jika hal itu dapat diwujudkan, maka cita-cita menjadikan Tapak Suci sebagai perguruan pencak silat terbesar dan paling profesional diIndonesia bukanlah sebuah angan-angan.
Ia akan menjadi kenyataan yang tumbuh dari perpaduan antara kemurnian nilai, kekuatan organisasi dan kerja keras seluruh kader Tapak Suci di mana pun berada.
Penutup
Muktamar XVI Tapak Suci bukan sekadar forum memilih pemimpin baru. Lebih dari itu, ia adalah momentum menentukan arah sejarah organisasi.
Pemimpin boleh berganti, tetapi cita-cita harus tetap tegak berdiri.
Kepengurusan boleh berubah, tetapi nilai-nilai perjuangan harus tetap terjaga.
Dari Semarang, Tapak Suci diharapkan melangkah memasuki babak baru perjalanan organisasinya, semakin kokoh sebagai perguruan dakwah, semakin maju sebagai lembaga pendidikan karakter dan semakin berprestasi sebagai kekuatan olahraga pencak silat Indonesia di tingkat nasional, regional, hingga dunia.
Sebab pada akhirnya, Tapak Suci tidak hanya bertugas melahirkan pesilat yang kuat.
Ia juga bertugas melahirkan manusia yang beriman, berilmu, berakhlak dan berkemajuan, sebagaimana cita-cita luhur yang diwariskan para pendirinya.
Muslimin Mawi
Eramas 2000, 11 Juni 2026
Tulis Komentar